Hai kawan...moshimoshi :) hehehe,kayak apaan aja ya judul ininya 'salam penulis',sebenernya calon penulis.hbisnya aku udah buat cerita sejenis novel tapi belum aku terbitin. Aku juga punya akun wattpad,namanya maftuhavia,follow yaa
maaf ya kalo selama aku buat cerita ada banyak typonya,habisnya kadang aku buat sambil ngantuk ngantuk,kalo ngantuk mesti idenya lancar bgt. thanks ya udah mau berkunjung di blogku
Have fun,happy enjoying my stories
My Wall and My Stories
Selasa, 02 Agustus 2016
White Album
White Album
Aku
melihat ke langit,hari ini sore menyapaku dengan angin musim semi menerpa
wajahku yang basah karena keringat di ruang club sejarah,aku melihat fedora
duduk di pinggir kolam pancur sambil melamun ke arah kolam yang di sinari oleh
cahaya matahari sore,aku tidak tau kenapa dia selalu pulang pukul empat,padahal
dia tidak melakukan apapun di sekolah,berbeda denganku yang selalu sibuk dengan
club sejarah setiap hari senin sampai kamis dan minggu pagi pukul 09.00,yaa
saudaraku itu berbeda dariku,walapun kami kembar dan umurnya lebih tua sepuluh
puluh menit dariku tapi tetap saja sifat kami berbeda,dia suka menyendiri
walaupun dirumah dan dimana saja termasuk di sekolah,tidak memiliki teman
karena sikapnya yang terlalu diam,kutu buku tidak peduli buku pelajaran atau
buku bacaan,dan… aneh juga misterius,bahkan aku tidak pernah mengajaknya pulang
bersama,karena jika aku mengajaknya pulang bersama sama saja suasana kami
berdua sunyi dan dingin. Dia juga menatap orang dengan tatapan dingin kecuali padaku,mungkin
karena aku saudaranya
“fedora” panggilku setelah berjarak satu meter darinya,dia diam
menatapku dengan tatapan bertanya “mau pulang bersamaku?,sekarang sudah jam
tiga lewat empat puluh menit,kita bisa terlambat pulang jika tidak pulang bersama”
kataku sambil melihat arlojiku untuk menghitung berapa menit jika aku pulang
jalan kaki
“tidak,kau pulang dulu saja” jawabnya,aku hanya diam melihatnya bahkan
ketika dia menjawab pertanyaanku dia tidak melihat ke arahku,aku maju satu
langkah dan dia hanya bergeming lalu mengeluarkan novel tebalnya.
“mau sampai kapan?,mau sampai kapan kau seperti ini fedora?” tanyaku
sambil menunduk,aku merasa dia mellihat ke arahku lalu kembali melihat bukunya
“mau sampai kapan kau terus mendiamkanku seperti ini?,aku tidak tahan
fedora..sudah dua belas tahun kau mendiamkanku seperti ini,sejak umur lima
tahun kau menjauhiku,apa..”
“tidak ada yang salah,ini karakterku aldora. kau tidak bersalah dan
tidak ada yang salah diantara kita berdua” jawab fedora
“tapi kenapa..”
“pulanglah,aku masih ingin disini” jawab fedora sambil berlalu
meninggalkanku,aku berlari keluar sekolah dan berjalan sambil menunduk karena
aku tidak ingin orang melihatku menangis. Sesampainya dirumah,suasana sepi
sekali,entah kenapa kaki ini berjalan ke arah kamar bunda dan ayah,aku
meletakkan tas sekolahku ke atas sofa ruang tamu. Tanganku bergerak ke
laci-laci dekat lemari bunda dan juga laci milik ayah,lalu aku berhenti ketika
aku menemukan sebuah berangkas,akupun memencet kode dari brankas itu,untung
saja aku masih ingat. Di dalamnya berisi dokumen dan juga beberapa perhiasan
milik bunda,namun aku menemukan sesobek kertas yang isinya ‘ruang
keluarga-perapian’ aku tidak tau apa
maksudnya,perasaan ingin tahu ini membuatku menutup brankas itu dan berjalan ke
arah ruang keluarga,aku berdiri di dekat perapian,tidak ada apa-apa di sana
bahkan aku tidak melihat ada barang yang mencurigakan disana,namun ketika aku
hendak melihat ke dalam perapian tanganku menyenggol sebuah vas bunga sesuatu
terjadi,dinding perapian itu berputar akupun masuk ke dalamnya tanpa pikir
panjang ketika aku masuk di dalam ruangan gelap sekali,beberapa detik kemudian
lampu satu persatu menyala,di dalamnya seperti galeri foto,ada banyak foto dan
juga barang-barang antic,aku berjalan ke arah foto keluarga,aku
menyentuhnya..foto itu terlihat hidup dan tanpa sengaja aku menyenggol pigura
itu dan pigura itupun tergeser,akupun menggeser pigura itu perlahan dan aku
melihat sebuah ruang kosong dan sebuah album foto dengan cover hitam yang bertuliskan
‘white album’.
Aku
duduk di kursi dekat kamera lama yang masih berdiri tegap,di dalam album itu
memuat foto bunda dari umur satu tahun hingga foto nikah bersama ayah,dan juga
saat bunda mengandungku dan fedora,foto kecilku bersama fedora,dan… ada foto
fedora di rumah sakit,tapi tidak ada aku disana,disana bunda dan ayah menangis.
entah kenapa perasaanku bergerak untuk menutup album itu dan berlari menuju
rumah sakit yang tertulis disana. Sesampainya disana,aku ke meja resepsionis
dan menanyakan tentang pasien yang bernama fedora albert,dan perempuan itupun
menyuruhku untuk ke ruang kendali,aku berlari kesana,dan aku menemukannya. Orang
perempuan itu menyuruhku untuk menemui dokter yang bersangkutan,ketika di jalan
aku bertemuu dokter itu
“fedora” kata dokter itu sambil melihat ke arahku
“dokter sandy” tanyaku. Kemudian dokter itu mempersilahkanku untuk masuk
ke dalam ruangannya,setelah aku duduk di kursi
“fedora kenapa kamu tidak memakai jaket?,cuaca diluar dingin,bisa-bisa
kondisimu memburuk”
“maaf dokter,saya bukan fedora. Saya aldora,saudara kembar fedora”
“oh,iya. Kamu adiknya fedora,kamu aldora albert kan?” tanya dokter
itu,aku hanya mengangguk “ada perlu apa kamu datang kesini nak aldora?”
“apa kakak saya sakit dok?” tanyaku
langsung,belum sempat dokter itu menjawab,seorang suster masuk kedalam ruangan
“dokter sandy,pasien anda yang bernama fedora
terluka” kata suster itu,langsung saja aku dan dokter sandy keluar dari ruangan
dan memeriksa fedora,beberapa menit kemudian dokter sandy keluar dari ruangan.
Sejak kecil fedora mempunyai penyakit kelainan jantung dan juga leukemia,namun
ketika umur delapan tahun dipastikan kalau fedora sudah sembuh tapi ternyata
tidak,sakitnya mulai terlihat lebih parah ketika dia berumur sepuluh
tahun,bahkan dia tidak bercerita pada bunda ataupun ayah,padaku saja tidak. Itu
penjelasan dari dokter sandy setelah itu aku pergi menemani fedora yang masih
tidak sadarkan diri,beberapa menit kemudian fedora sadar
“maaf” hanya itu yang di katakan fedora saat
dia sadar
“untuk apa?” tanyaku bingung
“karena aku tidak pernah,menganggapmu
saudaraku,karena aku tidak ingin kalian sedih,maafin aku yaa,dek aldora…”
setelah itu fedora tidur,tapi dia tertidur untuk selamanya. White album..album
foto bersamanya yang seperti kertas putih tanpa coretan,seperti diriku yang
tidak pernah bercengkrama dengan saudaraku.
Tersenyumlah Ara
Jatuh
cinta..berjuta rasanya..,ada sebuah lirik lagu yang mendiskripsikan bagaimana
indahnya cinta..namun ara berfikir kalau cinta itu tak sesederhana itu,tak
semudah drama korea yang romantis dengan kisah cintanya yang indah. Ara
berfikir kalau yang namanya cinta itu pasti rumit,dan itu yang dia rasakan
sekarang
Tersenyumlah Ara
Ara sesekali melihat sekeliling
apakah ada kak dwiki atau tidak,ya kak dwiki..orang yang berhasil membuatnya
nyaman,merasa memiliki kakak dan merasa bagaimana indahnya jatuh cinta ala anak
SMA,tapi bukan kak dwiki yang datang..melainkan kak owen
“nyari siapa ra?” tanya tasya
“kak owen” jawab ara
“tiara,kak owen lagi jalan jalan keliling
kelas lagi,ngapain di cari’in?”
“namanya juga suka terus kagum,wajar aja kalo
nyariin” ucap ara
“ara,bantuin dong!!” teriak fino dari dalam
kelas
“bentar!!” ara balas membentak,lalu memegang
gagang pintu tapi sebelum menggerakkan kenopnya,sekali lagi ara melihat ke arah
dimana kak dwiki sering berjalan di sana
“kamu beneran suka dan kagum sama kak dwiki?”
“iya sya,aku udah yakin kalo aku ini suka
sama dia. Spikolog bilang..kalau kita naksir orang lebih dari empat bulan,itu
artinya kita jatuh cinta sya”
“kamu udah naksir dia berapa bulan?”
“udah lama..sejak semester dua dapet dua
bulan aku udah suka dan sampai sekarang sukanya,itung aja sendiri berapa lama
aku sukanya” ucap ara lalu masuk ke kelasnya membantu fino,ini hari pertamanya
mengajar adek kelasnya sebagai pembimbing kelas.
Ketika waktunya pulang tiba-tiba
hujan turun,ara yang tadinya mendengarkan ketua osisnya menjelaskan tentang
acara apa saja yang akan di lakukan besok langsung keluar bergabung dengan hujan
yang turunnya semakin deras
“tiara!” panggil teman-temannya yang lain
ketika tiara sudah keluar dari ruang osis,tiara lari kesana kemari,berlari di
lapangan,mengambil bola basket di keranjang bola lalu memainkannya di
lapangan,di tengah tengah hujan..ara memainkan bola basket yang di pegangnya
itu,sampai seseorang datang sambil membawa payung untuknya
“ara” panggil orang itu,ara melihat ke sumber
suara
“kak dwiki” ucap ara,tapi tetap saja dia
meneruskan aktivitasnya
“ayo sini,nanti kamu sakit lo”
“aku enggak bakalan sakit cuma karena air
hujan aja”
“ayo” kak dwiki berdiri di depannya,ara
melihatnya lalu pergi dari hadapannya,tapi tidak sampai situ saja,kak dwiki
menggapai tangan tiara dan menariknya hingga tiara mau tidak mau wajahnya stay
close dengan wajahnya kak dwiki “nanti
sakit” setelah itu ara mengikuti kemana
kak dwiki pergi.
Tiara sudah memendam perasaan itu
lama sekali,tiara juga merasa sangat rindu pada sosok dwiki yang dia suka
itu,rindu itu semakin memuncak ketika dia tahu kalau beberapa hari kedepan,dia
akan bertemu kak dwiki. Tapi entah kenapa kebahagiaan itu tidak datang seperti
yang di harapkan ara,ketika masa los selesai dan di gantikan masa masa sekolah
kembali,dia harus di hadapkan dengan pilihan tetap tinggal atau mengalah
“apa!!” sinta,tasya dan Karin terkejut ketika
alya bilang kalau teman mereka sendiri suka dengan kak dwiki
“ara” panggil Karin sambil melihat ke arah
ara
“kamu mau nyerah gitu aja?” tanya sinta
“yaa..terus mau gimana lagi?aku
pertahanin?aku enggak mau nyakitin perasaan temen aku sendiri,aku juga enggak
mau bertengkar ama temen aku sendiri cuma masalah cowok”
“tapi kamu nyakitin perasaan kamu sendiri”
ucap Karin
“enggak apa kok,dari pada aku kehilangan
teman aku” ucap ara lalu pergi,hari demi hari vreya terlihat lebih dekat dengan
kak dwiki dari pada sebelumnya,bahkan terkadang vreya juga menceritakan tentang
kedekatannya dengan kak dwiki pada ara,tanpa vreya tau..ara terlihat begitu
kesulitan menutupi kesedihannya dengan senyumnya,menutupi air matanya dengan
mengucek matanya dan berpurapura menguap seolah olah dia mengantuk agar air
matanya tidak menetes,dia juga terluka saat vreya dan kak dwiki bercanda
bersama dan vreya yang mengggandengg tangan kak dwiki membuat ara berfikir
kalau seharusnya yang menggandeng tangan kak dwiki itu dirinya..bukan vreya,hingga
saat ara sendiri di depan kelas sambil menutup matanya kak owen datang
menghampirinya
“belakangan ini kamu terlihat murung,kenapa?”
“enggak apa apa kok”
“yakin?”
“iya,cuma terkadang merasa kek vas yang jatuh
dari atas meja lalu pecah dan pecahannya berserakan kemana-mana” kak owen
mengerti maksud pembicaraan ara,tapi dia hanya diam lalu duduk di samping ara
dan melingkarkan tangannya di bahu ara,ara terkejut dengan tindakan kak owen
“terkadang jika kita bisa lebih berhati-hati
mungkin vas itu tidak akan pecah” ucap kak owen sambil melihat ke ara dengan
senyumnya yang tulus
“mencintai seseorang tapi tak bisa
apa-apa..aku bisa merasakannya sekarang” ucap ara sambil menyandarkan kepalanya
di bahu kak owen
“ada kalanya kita perlu terima bahwa ada
orang yang diciptakan untuk ada di dalam hati kita,tapi bukan untuk di dalam
hidup kita” ucapan kak owen membuat ara menatapnya lekat-lekat. Dari nada
bicaranya yang tenang,tersirat amarah,sedihdan capek untuk apa yang tidak
dimengerti ara
“kakak juga merasakannya?”
“dek,semua orang juga merasakan hal yang sama
seperti itu,tapi semua itu ada saatnya”
“saatnya untuk apa?”
“ya ada saatnya kita harus meraih dan
genggaman,dan ada saatnya juga kita harus mulai melepaskan” ara melihat kak
owen beberapa saat lalu tersenyum lemas
“mungkin kak owen benar juga. Kadang aku
meminta pada tuhan,jika dia ingin aku jatuh cinta kembali,jatuhkan hati ini
pada orang yang tidak akan meninggalkanku dan menyakitiku dengan alasan yang
sama” kini giliran kak owen yang melihat ke arah ara,namun tatapannya
memberitahu betapa sayangnya kak owen pada tiara,tapi tiara tidak menyadarinya
“kalau aku lihat bulan pas malem mau
tidur,aku berfikir kalau bulan tak pernah menganggap bintang ada di
sampingnya,maka dari itu kita jarang lihat bintang kan?dan lebih sering lihat
bulan. Saat itu juga aku berfikir kalau aku pun akan tetap ada di sampingnya
walaupun dia tak pernah menganggap keberadaanku. Jadi aku hanya berharap,kalau
tuhan beri tahu dia. Kalau aku sayang sama dia” kak owen sedikit menekan kata
terakhirnya,ketika dia bilang ‘kalau aku
sayang sama dia’ dia melihat ke arah ara begitu juga ara yang melihat ke
arah kak owen.
Semenjak pembicaran mereka berdua
saat pulang sekolah,kak owen selalu ada di sampingnya dan selalu menghiburnya
ketika wajah ara terlihat sedih. Saat itu mereka sedang duduk sambil menunggu
anggota osis yang lainnnya kumpul
“habis gini kakak bakalan pensiun jadi osis
ya kak?” tanya ara
“hm,kenapa? bukannya kamu sudah tidak ada
perasaan lagi sama dwiki?”
“sebenarnya sih enggak hilang semuanya,masih
ada sedikit-sedikit”
“terus ngapain cari dia?” tanya kak owen
“lagian siapa juga yang nyari kak dwiki,aku
cuma kepikiran aja..kalau kakak udah enggak jadi osis lagi kan..itu artinya
kakak enggak bakalan bercanda lagi sama aku”
“ya teteplah,kan aku sudah bilang kalau aku
bakalan bikin kamu senyum setelah mengalami masa-masa yang sulit” tak lama
kemudian orang yang mereka bicarakan datang
“owen,nanti osisnya kumpul?”
“iya,kita bicarain buat performnya acara
besok” aku melihat kak dwiki selama mungkin aku bisa,lalu dia menyadari kalau
dirinya dilihat ara,kak dwiki memanggilnya
“ara,ngapain lihat lihat?”
“yaa,enggak nyangka aja,kalau dulu orang yang
aku suka sekarang sudah jadian sama temen aku sendiri” lalu ara tersenyum dan
pergi.
Ketika dia hendak sampai di pagar
depan sekolah,kak owen memanggilnya
“ara! mau kemana?”
“mau keluar liat kendaraan di depan” ucap ara
berbohong,karena sebenarnya hatinya terasa sakit mengucapkan kata-kata tadi
“aku tau kamu pasti lagi sakit hati kan?”
tanya kak owen
“sok tau”
“jujur
aja lagi,kalau kamu sedih..aku bakalan bantu kamu buat ngilangin rasa
sakit itu” ucap kak owen,tiara tersenyum lalu menghampirinya
“oke” lalu ara berjalan kembali ke arah
dimana dia bertemu kak dwiki untuk menunggu teman-temannya yang sedang membeli
snack di mini market,owen yang berjalan di belakangnya tersenyum
“andai kamu tau ra,aku ingin duduk di posisi
dwiki,di posisinya dimana saat kau menyayanginya. Aku menyayangimu ra,aku harap
kau tau”
Saat Cinta Tak Berpihak Padaku
Saat
Cinta Tak Berpihak Padaku
Teman-temanku bilang,kalau cinta itu indah dan beberapa
juga ada yang bilang kalau cinta itu menyakitkan,aku tidak tau mana yang benar
dan mana yang salah,karena aku belum merasakannya..aku belum tau seperti apa
rasanya jatuh cinta,tapi..mungkin aku akan merasakannya,ketika MOS aku sempat
melihatnya,dan kini kudengar dari teman-temanku kalau namanya itu dicky.
“dika,lu liatin siapa sih?” tanya teman
sebangkuku farah
“lu itu ya ra,kepo banget jadi anak”
“biarin napa” jawab ara sewot,aku tidak
pernah bercerita padanya kalau aku memiliki rasa ke dicky,sepertinya… Saat
istirahat aku melihat anaknya sedang membeli makanan di kantin,temanku farah
berjalan ke arahnya
“eh dicky,masuk kelas sepuluh apa?”
“sepuluh dua,kalau kamu far?”
“satu dong..” kata farah,dia menenggol lengan
kananku,aku hanya memandangnya lalu memesan makanan. Kami sudah sedikit akrab
sejak kejadian itu,tapi tidak begitu akrab juga,sampai akhirnya
“eh dik,lu suka ama anak yang namanya dicky
dicky itu?” tanya farah sambil tersenyum nakal
“apaan sih ra,enggak kok” kataku berusaha
untuk tidak melihatkan wajahku ke farah
“udah lah jujur aja..,lagian kalau kamu
suka..,aku juga mau ngapain?” kata farah cuek lalu membuka buku novelnya
“kamu tau anaknya?” tanyaku,farah hanya
menggeleng “terus kamu tau namanya dicky dari mana?”
“belakangan ini kamu sering tau nyebut-nyebut
namanya,tapi kalau di pikir-pikir cocok juga sih dika sama dicky,cuma beda
penulisan dan pengucapannya aja” kata ara enteng dan tidak memalingkan
pandangannya dari buku novelnya
“mau tau anaknya enggak?” tanyaku tanpa
berfikir dulu,farah terbelalak melihatku
“serius mau ngasih tau?” aku hanya mengangguk
sebagai jawabannya “wah..terima kasih” kata ara sambil mencubit pipi kananku.
Hari demi hari aku sering bertemu dengannya dan juga kini
aku saling tegur sapa dengannya,melihatnya tersenyum adalah kebahagiaan
tersendiri untukku dan bahkan sekarang aku mulai yakin jika aku mulai
menyukainya. Hari ini aku ada ekstra yang kebetulan satu ekstra dengannya,tapi
aku sendiri tidak tau kalau hari ini adalah hari bahagiaku dan juga hari
sedihku. Awalnya aku senang melihatnya,kami tertawa bersama saat guru Pembina
ekstra kami melawak,saat pulangnya ketika aku hendak menjahilinya ..aku
melihatnya berbicara berdua dengan anak perempuan,awalnya aku kira itu hanya
temannya,lalu ternyata bukan,mereka lebih dari teman,lebih tepatnya sepasang
kekasih. Aku tau dari gerak mereka dan cara mereka berbicara,aku langsung saja
pulang saat angkot sudah tiba,aku juga tidak menghiraukan panggilannya. Untuk
pertama kalinya aku merasa patah hati,dan kini aku tau bagaimana rasanya cinta
bertepuk sebelah tangan. Dan kalian tau..mungkin cinta ini tidak berpihak
padaku,namun lebih berpihak pada orang lain.
>its very short story I have :D , ini sebenernya bukan hasil pemikiranku,kalo yang lainnya emang pemikiran aku sendiri,tapi kalo yang satu ini..ide dari temenku..mangkannya cuma sedikit :v
Ketika Senja Membenci Hujan
Ketika Senja Membenci Hujan
Aku berlarian di antara air yang
turun dari langit,aku melihat ke arah langit yang kebetulan hari ini menjelang
sore,seulas senyum terbentuk di wajahku. Aku berlari ke rumah dalam ke adaan
basah kuyup.
“ya ampun non,kenapa hujan-hujan..,kan bibi
bisa jemput non” kata bi sinah satu-satunya pembantu di rumah ini
“tidak usah bi,hari ini aku lagi bahagia”
kataku lalu berlari masuk ke dalam rumah,ku dengar bi sinah meneriakiku karena
lantai rumah menjadi kotor,aku anak ke tiga dari tiga bersaudara,kedua kakakku
laki-laki dan sekarang mereka semester dua (kuliah),ini pertama kalinya aku
merasakan jatuh cinta,dan sekarang aku duduk di kelas dua SMA,di dalam
kamar,aku tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian di sekolah. Keesokan
harinya aku memutuskan untuk berangkat pagi-pagi,dan hari ini aku di antar kak
farel sedangkan kak ferrel berangkat lebih dulu berangkat karena menjemput kak
finda (pacar kak ferrel),ketika aku sudah sampai di depan gerbang ada suara
yang memanggilku
“senja” aku melihat ke arah suara itu
“dikki” panggilku,selama perjalanan ke kelas
kami asyik bergurau sampai akhirnya kami tiba di kelas,saat pelajaran pun aku
sesekali melihat ke arah dikki yang kebetulan duduknya berjarak satu baris dari
bangkuku,melihat sikapku yang tidak seperti biasanya,vera mencurigaiku
“kau sedang apa?” kata vera sambil
celingak-celinguk melihat ke arah yang aku tuju “lihat siapa sih?” tanyanya
sekali lagi
“sudalahlah,aku tidak melihat siapa-siapa
kok”. Saat bel pulang sekolah,hujan turun kembali,dengan segera aku
mengeluarkan pelindung anti air yang sudah di sediakan di dalam tasku,lalu aku
membungkus tasku,aku juga bilang kalau aku ada kerja kelompok agar tidak di
jemput. Ketika aku hendak melangkah keluar dari perlindungan atap
sekolah,seseorang menarik tanganku
“lepasin” kataku,ketika aku melihat wajahnya…
“kau ini kenapa?,lihat di luar hujan nanti
kamu bisa sakit”
“aku sudah terbiasa hujan-hujan sejak SD
kelas dua dan kemarin saja aku juga hujan-hujan,lihat?,aku masih sehat kan?”
“memangnya apa sih enaknya hujan-hujan?,aku
saja tidak suka” tanya dikki sambil memandang langit senja yang tertutup
mendung yang lumayan tebal
“namaku?senja,frazita senja. Dan aku lahir
saat senja,dan musim hujan ini,airnya selalu turun saat senja bukan?,jadi..aku
sangat menikmatinya..” dan saat itu juga aku menarik dikki dari tempat
berteduhnya,dan membawanya keluar sekolah,ketika sudah lumayan jauh dari
sekolahan dikki berteduh untuk membungkus tasnya sepertiku,aku hanya
memutar-mutar tubuhku di tengah derasnya hujan sambil menengadahkan wajahku dan
memejamkan mataku,menikmati dinginnya air yang jatuh dari langit begitu juga
dinginnya udara disekitarku,dan tanpa aku sadari aku sudah dekat dengannya
selama empat bulan ini dan aku baru merasakan rasa itu sekarang,di tanggal
ini,di jam yang sama,saat itu juga hujan,dia mengantarkanku pulang dengan
payung miliknya..biru. Aku berharap kedekatanku tidak akan berakhir.
“kemarilah,ini menyenangkan dik” teriakku
sambil berlarian
“tidak!!” balasnya sambil berteriak,dengan
terpaksa aku menariknya,dan mengajaknya berlarian di bawah derasnya hujan,aku
tertawa dan dia tersenyum melihat tingkahku. Kami pulang bersama,dia
mengantarkanku pulang karena kebetulan arah rumah kami sama. Ketika sampai di depan
rumahku dia melihat ke arahku
“terimakasih ya,aku baru tau kalau
hujan-hujan itu seperti ini” katanya,aku tersenyum lebar ke arahnya
“maka dari itu aku selalu bilang,kalau hujan
adalah alasan terbesarku untuk tersenyum lebar dan tertawa ria”
“terimakasih ya senja,semoga kita bisa
bersama-sama lagi seperti saat ini”.
Aku terlalu mudah untuk
percaya,terlalu mudah untuk senang saat berada di dekatnya saat itu,dan hari
ini ketika jam istirahat kedua saat aku hendak mengajaknya untuk hujan-hujan
lagi jika nanti sepulang sekolah hujan,tapi aku melihatnya sedang duduk berdua
dengan..ara,dan salah satu anak bilang kalau mereka pacaran dan sudah satu
bulan ini hubungan mereka berlangsung,seketika itu juga aku berlari keluar dari
perpustakaan. Dan saat itu juga aku membenci hujan,saat hujanpun aku gunakan
untuk melepas kesedihanku yang aku tahan dan aku pendam.
“senja!!” aku juga tidak peduli lagi dengan
teriakkannya ketika pulang sekolah dan saat itu hujan turun,dan kali ini
tanggal yang sama dan waktu yang sama,awalnya aku hujan-hujan
bersamanya,membagi canda tawaku bersamanya. Tapi kini semuanya berbeda..aku
sendiri,sendiri di bawah air hujan yang mendukungku untuk menangis,aku tidak
lagi menikmati hujan,aku tidak lagi tertawa besama hujan,tidak lagi tersenyum
saat hujan,dan sekarang yang ada aku menangis bersama hujan,sedih bersama
hujan,dulunya hujan adalah kebahagiaanku namun sekarang adalah
kesedihanku,karena hujan memberikanku kenangan yang pahit setelah kenangan yang
manis itu terjadi.
Karena sekarang..aku tidak suka
hujan,lebih tepatnya aku membencinya dan dengan itu juga aku
menghindari..HUJAN,karena itu akan mengingatkan tentang kenanganku bersamanya..
Langganan:
Komentar (Atom)