Ketika Senja Membenci Hujan
Aku berlarian di antara air yang
turun dari langit,aku melihat ke arah langit yang kebetulan hari ini menjelang
sore,seulas senyum terbentuk di wajahku. Aku berlari ke rumah dalam ke adaan
basah kuyup.
“ya ampun non,kenapa hujan-hujan..,kan bibi
bisa jemput non” kata bi sinah satu-satunya pembantu di rumah ini
“tidak usah bi,hari ini aku lagi bahagia”
kataku lalu berlari masuk ke dalam rumah,ku dengar bi sinah meneriakiku karena
lantai rumah menjadi kotor,aku anak ke tiga dari tiga bersaudara,kedua kakakku
laki-laki dan sekarang mereka semester dua (kuliah),ini pertama kalinya aku
merasakan jatuh cinta,dan sekarang aku duduk di kelas dua SMA,di dalam
kamar,aku tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian di sekolah. Keesokan
harinya aku memutuskan untuk berangkat pagi-pagi,dan hari ini aku di antar kak
farel sedangkan kak ferrel berangkat lebih dulu berangkat karena menjemput kak
finda (pacar kak ferrel),ketika aku sudah sampai di depan gerbang ada suara
yang memanggilku
“senja” aku melihat ke arah suara itu
“dikki” panggilku,selama perjalanan ke kelas
kami asyik bergurau sampai akhirnya kami tiba di kelas,saat pelajaran pun aku
sesekali melihat ke arah dikki yang kebetulan duduknya berjarak satu baris dari
bangkuku,melihat sikapku yang tidak seperti biasanya,vera mencurigaiku
“kau sedang apa?” kata vera sambil
celingak-celinguk melihat ke arah yang aku tuju “lihat siapa sih?” tanyanya
sekali lagi
“sudalahlah,aku tidak melihat siapa-siapa
kok”. Saat bel pulang sekolah,hujan turun kembali,dengan segera aku
mengeluarkan pelindung anti air yang sudah di sediakan di dalam tasku,lalu aku
membungkus tasku,aku juga bilang kalau aku ada kerja kelompok agar tidak di
jemput. Ketika aku hendak melangkah keluar dari perlindungan atap
sekolah,seseorang menarik tanganku
“lepasin” kataku,ketika aku melihat wajahnya…
“kau ini kenapa?,lihat di luar hujan nanti
kamu bisa sakit”
“aku sudah terbiasa hujan-hujan sejak SD
kelas dua dan kemarin saja aku juga hujan-hujan,lihat?,aku masih sehat kan?”
“memangnya apa sih enaknya hujan-hujan?,aku
saja tidak suka” tanya dikki sambil memandang langit senja yang tertutup
mendung yang lumayan tebal
“namaku?senja,frazita senja. Dan aku lahir
saat senja,dan musim hujan ini,airnya selalu turun saat senja bukan?,jadi..aku
sangat menikmatinya..” dan saat itu juga aku menarik dikki dari tempat
berteduhnya,dan membawanya keluar sekolah,ketika sudah lumayan jauh dari
sekolahan dikki berteduh untuk membungkus tasnya sepertiku,aku hanya
memutar-mutar tubuhku di tengah derasnya hujan sambil menengadahkan wajahku dan
memejamkan mataku,menikmati dinginnya air yang jatuh dari langit begitu juga
dinginnya udara disekitarku,dan tanpa aku sadari aku sudah dekat dengannya
selama empat bulan ini dan aku baru merasakan rasa itu sekarang,di tanggal
ini,di jam yang sama,saat itu juga hujan,dia mengantarkanku pulang dengan
payung miliknya..biru. Aku berharap kedekatanku tidak akan berakhir.
“kemarilah,ini menyenangkan dik” teriakku
sambil berlarian
“tidak!!” balasnya sambil berteriak,dengan
terpaksa aku menariknya,dan mengajaknya berlarian di bawah derasnya hujan,aku
tertawa dan dia tersenyum melihat tingkahku. Kami pulang bersama,dia
mengantarkanku pulang karena kebetulan arah rumah kami sama. Ketika sampai di depan
rumahku dia melihat ke arahku
“terimakasih ya,aku baru tau kalau
hujan-hujan itu seperti ini” katanya,aku tersenyum lebar ke arahnya
“maka dari itu aku selalu bilang,kalau hujan
adalah alasan terbesarku untuk tersenyum lebar dan tertawa ria”
“terimakasih ya senja,semoga kita bisa
bersama-sama lagi seperti saat ini”.
Aku terlalu mudah untuk
percaya,terlalu mudah untuk senang saat berada di dekatnya saat itu,dan hari
ini ketika jam istirahat kedua saat aku hendak mengajaknya untuk hujan-hujan
lagi jika nanti sepulang sekolah hujan,tapi aku melihatnya sedang duduk berdua
dengan..ara,dan salah satu anak bilang kalau mereka pacaran dan sudah satu
bulan ini hubungan mereka berlangsung,seketika itu juga aku berlari keluar dari
perpustakaan. Dan saat itu juga aku membenci hujan,saat hujanpun aku gunakan
untuk melepas kesedihanku yang aku tahan dan aku pendam.
“senja!!” aku juga tidak peduli lagi dengan
teriakkannya ketika pulang sekolah dan saat itu hujan turun,dan kali ini
tanggal yang sama dan waktu yang sama,awalnya aku hujan-hujan
bersamanya,membagi canda tawaku bersamanya. Tapi kini semuanya berbeda..aku
sendiri,sendiri di bawah air hujan yang mendukungku untuk menangis,aku tidak
lagi menikmati hujan,aku tidak lagi tertawa besama hujan,tidak lagi tersenyum
saat hujan,dan sekarang yang ada aku menangis bersama hujan,sedih bersama
hujan,dulunya hujan adalah kebahagiaanku namun sekarang adalah
kesedihanku,karena hujan memberikanku kenangan yang pahit setelah kenangan yang
manis itu terjadi.
Karena sekarang..aku tidak suka
hujan,lebih tepatnya aku membencinya dan dengan itu juga aku
menghindari..HUJAN,karena itu akan mengingatkan tentang kenanganku bersamanya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar