Selasa, 02 Agustus 2016

Ketika Senja Membenci Hujan



Ketika Senja Membenci Hujan

            Aku berlarian di antara air yang turun dari langit,aku melihat ke arah langit yang kebetulan hari ini menjelang sore,seulas senyum terbentuk di wajahku. Aku berlari ke rumah dalam ke adaan basah kuyup.
  “ya ampun non,kenapa hujan-hujan..,kan bibi bisa jemput non” kata bi sinah satu-satunya pembantu di rumah ini
  “tidak usah bi,hari ini aku lagi bahagia” kataku lalu berlari masuk ke dalam rumah,ku dengar bi sinah meneriakiku karena lantai rumah menjadi kotor,aku anak ke tiga dari tiga bersaudara,kedua kakakku laki-laki dan sekarang mereka semester dua (kuliah),ini pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta,dan sekarang aku duduk di kelas dua SMA,di dalam kamar,aku tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian di sekolah. Keesokan harinya aku memutuskan untuk berangkat pagi-pagi,dan hari ini aku di antar kak farel sedangkan kak ferrel berangkat lebih dulu berangkat karena menjemput kak finda (pacar kak ferrel),ketika aku sudah sampai di depan gerbang ada suara yang memanggilku
  “senja” aku melihat ke arah suara itu
  “dikki” panggilku,selama perjalanan ke kelas kami asyik bergurau sampai akhirnya kami tiba di kelas,saat pelajaran pun aku sesekali melihat ke arah dikki yang kebetulan duduknya berjarak satu baris dari bangkuku,melihat sikapku yang tidak seperti biasanya,vera mencurigaiku
  “kau sedang apa?” kata vera sambil celingak-celinguk melihat ke arah yang aku tuju “lihat siapa sih?” tanyanya sekali lagi
  “sudalahlah,aku tidak melihat siapa-siapa kok”. Saat bel pulang sekolah,hujan turun kembali,dengan segera aku mengeluarkan pelindung anti air yang sudah di sediakan di dalam tasku,lalu aku membungkus tasku,aku juga bilang kalau aku ada kerja kelompok agar tidak di jemput. Ketika aku hendak melangkah keluar dari perlindungan atap sekolah,seseorang menarik tanganku
  “lepasin” kataku,ketika aku melihat wajahnya…
  “kau ini kenapa?,lihat di luar hujan nanti kamu bisa sakit”
  “aku sudah terbiasa hujan-hujan sejak SD kelas dua dan kemarin saja aku juga hujan-hujan,lihat?,aku masih sehat kan?”
  “memangnya apa sih enaknya hujan-hujan?,aku saja tidak suka” tanya dikki sambil memandang langit senja yang tertutup mendung yang lumayan tebal
  “namaku?senja,frazita senja. Dan aku lahir saat senja,dan musim hujan ini,airnya selalu turun saat senja bukan?,jadi..aku sangat menikmatinya..” dan saat itu juga aku menarik dikki dari tempat berteduhnya,dan membawanya keluar sekolah,ketika sudah lumayan jauh dari sekolahan dikki berteduh untuk membungkus tasnya sepertiku,aku hanya memutar-mutar tubuhku di tengah derasnya hujan sambil menengadahkan wajahku dan memejamkan mataku,menikmati dinginnya air yang jatuh dari langit begitu juga dinginnya udara disekitarku,dan tanpa aku sadari aku sudah dekat dengannya selama empat bulan ini dan aku baru merasakan rasa itu sekarang,di tanggal ini,di jam yang sama,saat itu juga hujan,dia mengantarkanku pulang dengan payung miliknya..biru. Aku berharap kedekatanku tidak akan berakhir.
  “kemarilah,ini menyenangkan dik” teriakku sambil berlarian
  “tidak!!” balasnya sambil berteriak,dengan terpaksa aku menariknya,dan mengajaknya berlarian di bawah derasnya hujan,aku tertawa dan dia tersenyum melihat tingkahku. Kami pulang bersama,dia mengantarkanku pulang karena kebetulan arah rumah kami sama. Ketika sampai di depan rumahku dia melihat ke arahku
  “terimakasih ya,aku baru tau kalau hujan-hujan itu seperti ini” katanya,aku tersenyum lebar ke arahnya
   “maka dari itu aku selalu bilang,kalau hujan adalah alasan terbesarku untuk tersenyum lebar dan tertawa ria”
  “terimakasih ya senja,semoga kita bisa bersama-sama lagi seperti saat ini”.
            Aku terlalu mudah untuk percaya,terlalu mudah untuk senang saat berada di dekatnya saat itu,dan hari ini ketika jam istirahat kedua saat aku hendak mengajaknya untuk hujan-hujan lagi jika nanti sepulang sekolah hujan,tapi aku melihatnya sedang duduk berdua dengan..ara,dan salah satu anak bilang kalau mereka pacaran dan sudah satu bulan ini hubungan mereka berlangsung,seketika itu juga aku berlari keluar dari perpustakaan. Dan saat itu juga aku membenci hujan,saat hujanpun aku gunakan untuk melepas kesedihanku yang aku tahan dan aku pendam.
  “senja!!” aku juga tidak peduli lagi dengan teriakkannya ketika pulang sekolah dan saat itu hujan turun,dan kali ini tanggal yang sama dan waktu yang sama,awalnya aku hujan-hujan bersamanya,membagi canda tawaku bersamanya. Tapi kini semuanya berbeda..aku sendiri,sendiri di bawah air hujan yang mendukungku untuk menangis,aku tidak lagi menikmati hujan,aku tidak lagi tertawa besama hujan,tidak lagi tersenyum saat hujan,dan sekarang yang ada aku menangis bersama hujan,sedih bersama hujan,dulunya hujan adalah kebahagiaanku namun sekarang adalah kesedihanku,karena hujan memberikanku kenangan yang pahit setelah kenangan yang manis itu terjadi.
            Karena sekarang..aku tidak suka hujan,lebih tepatnya aku membencinya dan dengan itu juga aku menghindari..HUJAN,karena itu akan mengingatkan tentang kenanganku bersamanya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar