Selasa, 02 Agustus 2016

Petrichor



        Aku membuka jendela kamarku,kali ini aku tidak hujan-hujan tapi mencium bau hujan. Seseorang mengajarkanku kalau hujan datang tidak harus main hujan keluar rumah,namun cukup mencium baunya saja terasa sejuk…bagiku.

Petrichor

            Diluar sedang hujan,beberapa temanku sudah menghubungi orang tua masing-masing untuk minta di jemput,aku sampai heran..padahal ini masih gerimis tapi mereka sudah bingung. Wajar saja,sekolahku termasuk sekolah favorit dan ternama di sekolahku,bisa juga di katakan sekolah elite,mungkin rata-rata jumlah siswanya hanya delapan ratus tujuh puluh delapan saja,jadi wajar kalau beberapa murid disini pada lebay semua,kalian sudah tau apa alasannya kan?
  “kamu pulang sekarang za?” tanya zeva sahabatku sejak kecil
  “iyup,tapi tunggu hujannya sampai deras dulu” jawabku sambil merentangkan tangan kiriku agar terkena air hujan
  “enggak malu apa sudah kelas sepuluh,tapi kok masih aja suka hujan-hujan?”
  “enggak,aku juga enggak malu kalau dibilang anak kampungan yang bersekolah di sekolah elite. Ngapain juga malu,orang cuma hujan-hujanan aja kok. Rumah ama perusahaan ayahku juga besar” lalu pergi sambil merentangkan tanganku
  “faza” panggil zeva dari belakangku   “kalau seumpama aku sudah di jemput..”
  “kamu pulang dulu aja,enggak apa-apa kok” potongku sambil melihat ke arahnya
  “yakin?”,aku mengangguk lalu tersenyum
  “walaupun seperti ini…kau akan tetap bertanya?” aku menyipratkan tangan kiriku yang basah karena air hujan ke wajah zeva
  “aduh faza…nanti mukaku bisa gatal-gatal” kta zeva sambil mencari tisu di dalam tasnya
  “ih sok cantik deh..tapi emang kamu catik sih” lalu berjalan meninggalkannya. Aku jalan sambil melihat anak laki-laki yang sedang bergerombol,beberapa juga terlihat sedang memainkan air hujan dengan tangannya
  “bahkan anak laki-laki juga tidak suka dengan acara hujan-hujanan” kata seseorang yang ada di sampingku
  “kenapa?”
  “beberapa dari mereka akan sakit jika terkena air hujan”
  “lebay” kataku lalu berjalan ke arah lokerku
  “kenapa kau bicara seperti itu?”
  “karena aku..suka hujan” aku mendengar semakin banyak hujan yang turun,jadi aku mengeluarkan buku-bukuku yang tidak bersampul plastik untuk ku taruh di loker agar tidak basah karena air hujan
  “apa yang kau lakukan?”
  “dengar ya sang pemegang ranking satu,rangking dua mau pulang sambil hujan-hujanan,pergi dan jangan halangi aku” ucapku lalu berjalan ke arah pintu keluar.
            Aku melihat hujan kali ini lebih deras dan anginpun juga bertiup lebih kencang,aku berlari menerabas air hujan agar aku bisa menikmati sensasi dingin karena cuaca hujan
  “I’m coming!!” teriakku sambil berlari keluar dari tempatku berteduh. Sepanjang perjalanan aku menari di bawah hujan,merasakan butir-butir air yang jatuh dan dinginnya angin yang membuatku merasa lebih rilex,bahkan aku tidak mempedulikan gemuruh geluduk yang bergerumuh di atasku. Kali ini aku lebih memilih jalan memutar karena jalan yang biasanya aku lewati kemungkinan besar banjir,ketika aku hampir sampai di tikungan yang mengarah ke rumahku,aku melihat seorang anak laki-laki seumuranku sedang menikmati bau air hujan,aku melihat ke arahnya,dia melihat langit dengan pandangan kosong dan tidak sadar kalau aku memperhatikannya,kalau dilihat dari baju seragamnya dia sekolah di…
  “wow! Sma Colloseum 4” ucapku lirih,namun itu membuat anak itu melihatku,namun dia hanya pergi tanpa bicara apapun. Aku langsung berlari sebelum anak itu memergokiku melihatnya sejak tadi.
            Selama tiga hari ini hujan terus turun di tambah saat itu waktuku pulang sekolah. Selama itu juga aku terus melihat anak laki-laki itu. Saat itu aku pulang sekolah dan  aku melihat anak laki-laki yang biasanya aku lihat sedang menikmati aroma hujan di bawah lindungan payung
  “hai” sapaku samnil melihatnya dari bawah payung miliknya,namun anak itu hanya menatap sinis padaku   “kamu anak Sma Colloseum 4 kan?”
  “kamu itu kenapa?.kalau lewat depan rumah lihatin terus,sok kenal lagi”
  “eh,kamu kok gitu sih” ucapku kesal lalu pergi
  “hati-hati terpeleset” ucap anak itu namun aku tidak mempedulikan ucapannya. Bukannya terpeleset tapi kakiku masuk ke dalam lubang yang berukuran lumayan besar
  “aduh!” ucapku lirih
  “butuh bantuan?” tanya anak laki-laki itu,kullihat dia mengulurkan tangannya padaku,mau tidak mau aku menerima uluran tangannya
  “makannya hati-hati kalau jalan” ucap anak laki-laki itu,untuk pertama kalinya aku pulang bersama seseorang saat hujan,walaupun orang itu memakai payung untuk melindungiku dari hujan
  “sejak tadi kita diam saja tanpa tau nama masing-masing” ucapku sambil berjalan beriringan dengannya
  “namaku vito”
  “aku faza”
  “sekolah dimana?”
  “Sma Karistik” jawabku,ketika aku melihat ke arahnya wajahnya terlihat keget
  “wow,itu kan sekolah…kamu pilih private,khusus atau umum?”
  “Khusus”
  “kenapa?”
  “kalau private satu kelas itu cuma ada enam belas murid dan aku gak suka..soalnya temannya cuma sedikit,kalau umum atau pelajarannya banyak dan muridnya ada tiga puluh delapan perkelas. Kalau khusus kita kan bisa memilih mata pelajaran lain selain mat,ipa,b.indo dan b.ing,muridnya juga cuma ada dua puluh” jawabku panjang lebar. Sejak hari itu aku dan vito menjadi teman dekat,aku sering main ke rumahnya begitupun sebaliknya.
            Tujuh bulan berlalu saat itu hujan,kami berdua hujan-hujan bersama dan memutari komplek perumahan secara urut,karena hujan ini lumayan deras dan lama.
  “kita hujan-hujanan sejak jam berapa?” tanya vito sambil menggenggam erat tanganku
  “jam sebelas siang” jawabku
  “sekarang sudah jam tiga sore,dan kita juga sudah mengelilingi kompleks perumahan walaupun enggak semua,ditambah sebentar lagi kita sampai” kata vito,saat kita sudah sampai di depan rumahku,vito berdiri di depanku lalu memegang kedua tanganku.
  “faza”
  “iya”
  “terima kasih sudah mau menjadi temanku selama tujuh bulan ini—“ vito diam sejenak   “—tapi aku disini hanya satu tahun saja,sekarang adalah hari terakhirku disini,besok aku akan kebandara—“
  “vito” aku memotong ucapannya
  “aku dan keluargaku akan kembali ke Singapore,jadwal kerja papaku di indonesia sudah habis,jadi kami akan kembali ke Singapore. Aku harap kamu kamu ikut datang ke bandara buat aku untuk terakhir kalinya—“ ketika aku hendak membuka mulutku untuk menjawabnya,tapi vito meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku   “—entah kapan aku akan datang lagi,tunggu aku” ucapan vito membuatku terdiam,aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata sedikitpun. Aku melihat punggungnya yang menghilang di tikungan,saat ini hujan dan tak seorangpun yang tau kalau aku menangis.
            Sampai hari ini pun aku tidak pernah melihatnya lgi,bahkan saat dia berangkatpun aku tidak ikut mengantarnya ke bandara. Hari ini masih hujan,aku memutuskan keluar untuk main hujan-hujan karena aku bosan berada di rumah,aku jalan keluar perumahan dengan jalan memutar lewat komplek perumahan sebelah dan kembali pulang lewat jalan yang dulunya aku pakai untuk pulang sekolah,ketika aku berlari dan lompat lompat di genangan air..
  “hati-hati terpeleset” suara yang sangat aku kenal terdengar lagi setelah tiga tahun lamanya aku tidak mendengar suaranya,aku terdiam..kuberanikan diri untuk melihat ke belakang. Tiba-tiba seseorang sedang berdiri di belakangku dan tersenyum ke arahku   “untung saja tidak terpeleset” aku terseyum mendengar ucapannya,akupun berlari lalu memeluknya,aku memeluknya erat setelah tiga tahun tidak bertemu dengannya.
  “Terimakasih” ucapku lirih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar