Aku membuka jendela kamarku,kali ini aku tidak
hujan-hujan tapi mencium bau hujan. Seseorang mengajarkanku kalau hujan datang
tidak harus main hujan keluar rumah,namun cukup mencium baunya saja terasa
sejuk…bagiku.
Petrichor
Diluar sedang hujan,beberapa temanku
sudah menghubungi orang tua masing-masing untuk minta di jemput,aku sampai
heran..padahal ini masih gerimis tapi mereka sudah bingung. Wajar
saja,sekolahku termasuk sekolah favorit dan ternama di sekolahku,bisa juga di
katakan sekolah elite,mungkin rata-rata jumlah siswanya hanya delapan ratus
tujuh puluh delapan saja,jadi wajar kalau beberapa murid disini pada lebay
semua,kalian sudah tau apa alasannya kan?
“kamu pulang sekarang za?” tanya zeva
sahabatku sejak kecil
“iyup,tapi tunggu hujannya sampai deras dulu”
jawabku sambil merentangkan tangan kiriku agar terkena air hujan
“enggak malu apa sudah kelas sepuluh,tapi kok
masih aja suka hujan-hujan?”
“enggak,aku juga enggak malu kalau dibilang
anak kampungan yang bersekolah di sekolah elite. Ngapain juga malu,orang cuma
hujan-hujanan aja kok. Rumah ama perusahaan ayahku juga besar” lalu pergi
sambil merentangkan tanganku
“faza” panggil zeva dari belakangku “kalau seumpama aku sudah di jemput..”
“kamu pulang dulu aja,enggak apa-apa kok” potongku
sambil melihat ke arahnya
“yakin?”,aku mengangguk lalu tersenyum
“walaupun seperti ini…kau akan tetap
bertanya?” aku menyipratkan tangan kiriku yang basah karena air hujan ke wajah
zeva
“aduh faza…nanti mukaku bisa gatal-gatal” kta
zeva sambil mencari tisu di dalam tasnya
“ih sok cantik deh..tapi emang kamu catik
sih” lalu berjalan meninggalkannya. Aku jalan sambil melihat anak laki-laki
yang sedang bergerombol,beberapa juga terlihat sedang memainkan air hujan
dengan tangannya
“bahkan anak laki-laki juga tidak suka dengan
acara hujan-hujanan” kata seseorang yang ada di sampingku
“kenapa?”
“beberapa dari mereka akan sakit jika terkena
air hujan”
“lebay” kataku lalu berjalan ke arah lokerku
“kenapa kau bicara seperti itu?”
“karena aku..suka hujan” aku mendengar
semakin banyak hujan yang turun,jadi aku mengeluarkan buku-bukuku yang tidak
bersampul plastik untuk ku taruh di loker agar tidak basah karena air hujan
“apa yang kau lakukan?”
“dengar ya sang pemegang ranking satu,rangking
dua mau pulang sambil hujan-hujanan,pergi dan jangan halangi aku” ucapku lalu
berjalan ke arah pintu keluar.
Aku melihat hujan kali ini lebih
deras dan anginpun juga bertiup lebih kencang,aku berlari menerabas air hujan
agar aku bisa menikmati sensasi dingin karena cuaca hujan
“I’m coming!!” teriakku sambil berlari keluar
dari tempatku berteduh. Sepanjang perjalanan aku menari di bawah
hujan,merasakan butir-butir air yang jatuh dan dinginnya angin yang membuatku
merasa lebih rilex,bahkan aku tidak mempedulikan gemuruh geluduk yang
bergerumuh di atasku. Kali ini aku lebih memilih jalan memutar karena jalan
yang biasanya aku lewati kemungkinan besar banjir,ketika aku hampir sampai di
tikungan yang mengarah ke rumahku,aku melihat seorang anak laki-laki seumuranku
sedang menikmati bau air hujan,aku melihat ke arahnya,dia melihat langit dengan
pandangan kosong dan tidak sadar kalau aku memperhatikannya,kalau dilihat dari
baju seragamnya dia sekolah di…
“wow! Sma Colloseum 4” ucapku lirih,namun itu
membuat anak itu melihatku,namun dia hanya pergi tanpa bicara apapun. Aku
langsung berlari sebelum anak itu memergokiku melihatnya sejak tadi.
Selama tiga hari ini hujan terus
turun di tambah saat itu waktuku pulang sekolah. Selama itu juga aku terus
melihat anak laki-laki itu. Saat itu aku pulang sekolah dan aku melihat anak laki-laki yang biasanya aku
lihat sedang menikmati aroma hujan di bawah lindungan payung
“hai” sapaku samnil melihatnya dari bawah
payung miliknya,namun anak itu hanya menatap sinis padaku “kamu anak Sma Colloseum 4 kan?”
“kamu itu kenapa?.kalau lewat depan rumah
lihatin terus,sok kenal lagi”
“eh,kamu kok gitu sih” ucapku kesal lalu
pergi
“hati-hati terpeleset” ucap anak itu namun
aku tidak mempedulikan ucapannya. Bukannya terpeleset tapi kakiku masuk ke dalam
lubang yang berukuran lumayan besar
“aduh!” ucapku lirih
“butuh bantuan?” tanya anak laki-laki
itu,kullihat dia mengulurkan tangannya padaku,mau tidak mau aku menerima uluran
tangannya
“makannya hati-hati kalau jalan” ucap anak
laki-laki itu,untuk pertama kalinya aku pulang bersama seseorang saat
hujan,walaupun orang itu memakai payung untuk melindungiku dari hujan
“sejak tadi kita diam saja tanpa tau nama
masing-masing” ucapku sambil berjalan beriringan dengannya
“namaku vito”
“aku faza”
“sekolah dimana?”
“Sma Karistik” jawabku,ketika aku melihat ke
arahnya wajahnya terlihat keget
“wow,itu kan sekolah…kamu pilih
private,khusus atau umum?”
“Khusus”
“kenapa?”
“kalau private satu kelas itu cuma ada enam
belas murid dan aku gak suka..soalnya temannya cuma sedikit,kalau umum atau
pelajarannya banyak dan muridnya ada tiga puluh delapan perkelas. Kalau khusus
kita kan bisa memilih mata pelajaran lain selain mat,ipa,b.indo dan
b.ing,muridnya juga cuma ada dua puluh” jawabku panjang lebar. Sejak hari itu
aku dan vito menjadi teman dekat,aku sering main ke rumahnya begitupun
sebaliknya.
Tujuh bulan berlalu saat itu
hujan,kami berdua hujan-hujan bersama dan memutari komplek perumahan secara
urut,karena hujan ini lumayan deras dan lama.
“kita hujan-hujanan sejak jam berapa?” tanya
vito sambil menggenggam erat tanganku
“jam sebelas siang” jawabku
“sekarang sudah jam tiga sore,dan kita juga
sudah mengelilingi kompleks perumahan walaupun enggak semua,ditambah sebentar
lagi kita sampai” kata vito,saat kita sudah sampai di depan rumahku,vito
berdiri di depanku lalu memegang kedua tanganku.
“faza”
“iya”
“terima kasih sudah mau menjadi temanku
selama tujuh bulan ini—“ vito diam sejenak
“—tapi aku disini hanya satu tahun saja,sekarang adalah hari terakhirku
disini,besok aku akan kebandara—“
“vito” aku memotong ucapannya
“aku dan keluargaku akan kembali ke
Singapore,jadwal kerja papaku di indonesia sudah habis,jadi kami akan kembali
ke Singapore. Aku harap kamu kamu ikut datang ke bandara buat aku untuk
terakhir kalinya—“ ketika aku hendak membuka mulutku untuk menjawabnya,tapi
vito meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku “—entah kapan aku akan datang lagi,tunggu
aku” ucapan vito membuatku terdiam,aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata
sedikitpun. Aku melihat punggungnya yang menghilang di tikungan,saat ini hujan
dan tak seorangpun yang tau kalau aku menangis.
Sampai hari ini pun aku tidak pernah
melihatnya lgi,bahkan saat dia berangkatpun aku tidak ikut mengantarnya ke
bandara. Hari ini masih hujan,aku memutuskan keluar untuk main hujan-hujan karena
aku bosan berada di rumah,aku jalan keluar perumahan dengan jalan memutar lewat
komplek perumahan sebelah dan kembali pulang lewat jalan yang dulunya aku pakai
untuk pulang sekolah,ketika aku berlari dan lompat lompat di genangan air..
“hati-hati terpeleset” suara yang sangat aku
kenal terdengar lagi setelah tiga tahun lamanya aku tidak mendengar suaranya,aku
terdiam..kuberanikan diri untuk melihat ke belakang. Tiba-tiba seseorang sedang
berdiri di belakangku dan tersenyum ke arahku
“untung saja tidak terpeleset” aku terseyum mendengar ucapannya,akupun
berlari lalu memeluknya,aku memeluknya erat setelah tiga tahun tidak bertemu
dengannya.
“Terimakasih” ucapku lirih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar