Selasa, 02 Agustus 2016

Dream Catcher



Dream Catcher

            Hari ini tara pulang telat,bukan karena ada rapat osis,ekstrakulikuler,kumpul bersama teman atau apa,tapi tara hanya ingin sendirian,benar-benar sendirian,sudah delapan bulan ini dia tidak bertemu dengan sahabat lamanya,bahkan saat itu dia main ke rumah temannya..tetap saja dia tidak bertemu fandi. Tara sudah kehabisan akal,entah bagaimana caranya dia harus memendam rasa rindu itu pada sahabat lamanya.
  “aku harus kesana,bagaimanapun caranya” ucapnya lirih,tara melihat ke langit,disana fandi mengucapkan satu kata yang masih dia ingat   “aku akan ada di atas sana saat kau rindu padaku,karena aku akan menjadi langitmu yang mudah kau lihat saat kau rindu padaku,bayangkan saja jika rindu padaku..cukup lihat langit dan,sebut namaku tiga kali,..fandi..fandi..fandi” tara mengucapkan nama fandi pelan,tapi itu percuma,fandi tidak akan datang seperti dulu lagi.
            Setibanya di rumah,tara langsung berjalan ke kamar dan mengunci pintunya,tara mengambil satu foto yang dia letakkan di figura,fotonya bersama fandi di sebuah taman,dimana ia di gendong fandi di belakang dan kedua tangan tara yang mencubit kedua pipi fandi,senyum fandi terukir lebar di foto itu,terlihat sekali kalau fandi begitu senang.
  “fandi..fandi..fandi” tara menyebut nama fandi tiga kali   “fandi..fandi..fandi!!” kali ini suaranya lebih keras   “fandi aku memanggilmu!kenapa kau tidak datang?” tara menundukkan kepalanya setelah mengucapkan kalimat itu cukup keras,setetes air mata jatuh di atas pigura itu,entah kenapa dia begitu rindu pada sahabat lamanya itu   “aku harus pergi,harus” ucap tara pada dirinya sendiri,segera tara mandi setelah itu menyiapkan barang yang akan dia bawa besok.
  “besok mau kemana aja?” tanya ibu tara
  “nonton,timezone dan foto-foto bersama”
  “sudah bilang fandi?” tara menggeleng ketika ayahnya menanyakan itu padanya   “kenapa?”
  “surprise”
  “bagaimana kalau fandi enggak ada di rumah?”
  “ih ibu,bikin semangat surut aja”. Tara masih belum bisa tidur,ia masih takut mimpi itu akan datang lagi,mimpi dimana fandi marah padanya dan membencinya,lalu bilang kalau dia tidak mau bersahabat lagi dengannya,namun tara harus tetap tidur.
            Tara berangkat di antar ayahnya,tapi dia tidak langsung menuju rumah fandi melainkan ke rumah temannya
  “emangnya kamu tau ra rumahnya fandi itu dimana?”
  “iya ka,lagian kalau enggak kesana untuk ketemu dia mau pake cara  apalagi”
  “tapi  ra,kalau fandi lagi ada kerja kelompok ama teman sekolahnya gimana?”
  “lika,kamu teman baik aku kan?,cuma kamu dan aku temen cewek yag dekat ama fandi..aku mohon,bantu aku dengan doa ya” kata tara lalu tersenyum. Lika teman baik tara sejak smp tidak bisa mencegah tara untuk pergi ke rumah fandi
            Sesampainya disana tara melihat seorang laki-laki sedang berdiri di dekat rumah fandi,tara tidak mengenali orang itu karena dia menunduk
  “mas mau tanya,fandinya ada di rumah kan?”
  “enggak ada,kan fandinya lagi disini” ucap mas-mas itu lalu melihat ke arah tara,tara tersenyum dan langsung memeluk fandi
  “tar-tara,kalau dilihat orang gimana?” melihat sekitar daerah rumahnya
  “sepi kok” ucap tara setelah melepas pelukan dari fandi. Mereka berdua pergi ke mall untuk main bersama,ke toko buku,timezone,toko aksesoris dan juga nonton film
  “tara,kamu percaya kalau dream catcher itu bisa merangkap mimpi?”
  “sedikit”
  “kenapa?,bukannya kamu dulu percaya banget ya?”
  “iya,tapi itu semua berubah saat aku mimpi buruk dan itu benar-benar mimpi buruk buat aku”
  “mimpi apa itu?” akhirnya tara menceritakan mimpi buruknya pada fandi,fandi tersenyum lalu melingkarkan tangannya ke bahu tara   “enggak enggak,itu mungkin cuma efek kamu kangen sama aku. Aku janji kita akan tetap menjadi sahabat sampai kapanpun” ucapan fandi membuat tara lupa akan mimpi buruknya,fandi mengajak tara ke toko pernak-pernik,disana fandi mengambil dream catcher berwarna biru
  “untuk apa?”
  “untuk kamu” kata fandi sambil menunjukkan drema catcher itu
  “tapi aku enggak suka kalau warnanya cuma biru” fandi pun meletakkannya dan mengambil yang lainnya,akhirnya fandi mengambil dream catcher berwarna biru dengan perbaduan warna ungu dan putih
  “ini?” tara mengambilnya dari tangan fandi
  “kamu enggak?” tanya tara sambil berjalan ke arah kasir
  “enggak”
  “kenapa?”
  “karena aku udah punya dream catcher sendiri”
  “oh iya?,apa itu? seperti milikku?”
  “bukan,tapi kamu” tara berhenti memandangi dream catcher itu
  “kok bisa?”
  “kalau ingat kamu itu..serasa mimpi buruk itu enggak mau datang ke tidurku,kalau kamu mau aku bisa jadi dream catcher kamu”
  “caranya?”
  “sebut namaku tiga kali dan lihat dream catcher milikmu,aku akan datang dan menjaga agar mimpi burukmu tidak pernah datang lagi” tara pun menaruh dream catcher itu untuk membayarnya di kasir. Mereka berdua keluar dari toko itu,saling bergandengan tangan seperti dulu. Tara kini memiliki pemikiran sendiri tentang dream catcher,kini dia memiliki dream catcher sendiri yang tidak akan meninggalkannya.
  “kau selalu memberikan mimpi indah bagiku fandi” ucap tara setelah dia sampai di rumah   “mulai dari sekarang” tara tersenyum ke dream catcher miliknya lalu berpaling melihat fandi,fandi membalasnya dengan senyum lalu memeluknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar